Dari banyaknya gunung yang ada di provinsi Jawa Timur ada salah satu gunung yang harus didaki bagi para pendaki maupun orang awam yang ingin berwisata alam menikmati indahnya Pegunungan yaitu Gunung Penanggungan. gunung ini hanya memiliki ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut dan hanya membutuhkan waktu 5 jam untuk mencapai puncak. Gunung ini terletak di dua kabupaten yaitu Mojokerto dan Pasuruan, Jawa Timur. Dengan koordinat 7,62°LS 112,63°BT.
Dahulu gunung ini di sebut dengan gunung Pawitra yang bermakna kabut, karena puncaknya yang runcing selalu tertutup kabut. Gunung ini juga gunung yang sangat di hormati karena sering dianggap sebagai kediaman para dewa, setidaknya ada sekitar 81 situs arkeologi di gunung, sebagian besar pada sisi-sisi utara dan barat. Reruntuhan tempat-tempat suci, monumen, dan situs mandi suci masa Hindu yang ditemukan, yang membentang lebih dari 5 abad dari tahun 977 sampai 1511.
Jenis gunung ini adalah Stratovolcano yaitu trato berarti kerucut dan volcano berarti gunung api, jadi kurang lebih stratovolcano dapat diartikan gunung api yang bentuknya menyerupai kerucut. Gunung Penanggungan terletak di sebelah utara Gunung Arjuna (3.339 m) dan Gunung Welirang (3.156m). dan gunung ini dikelilingi oleh empat gunung di sekitarnya, yaitu Gn. Gajah Mungkur (1.084 m), Gn. Bekel (1.2040 m), Gn. Sarahklopo (1235 m) dan Gn. Kemuncup (1.238 m).
Untuk menempuh gunung Penanggungan ini anda bisa melakukan pendakian dengan beberapa jalur diantaranya: Jalur Tamiajeng, Jalur Ngoro, Jalur kalihputh dan jalur jolo tundo. Gunung itu dapat dicapai dengan kendaraan bermotor dari Surabaya atau Malang menuju ke Pandaan, lalu ke Trawas dan terakhir aspal di Jolotundo. Perjalanan dilanjutkan melalui jalan setapak yang relatif mudah.
Sejarah Real Madrid
Sejarah Real Madrid Club de Futbol bermula pada tahun 1897. Saat itu
beberapa mahasiswa Institución libre de enseñanza yang terdiri dari
lulusan Universitas Oxford dan Cambridge mendirikan sebuah klub
sepakbola bernama Football Club Sky. Klub ini lalu terpecah 2 pada
tahun 1900 menjadi New Foot-Ball de Madrid dan Club Español de Madrid.
Pada 6 Maret 1902 klub kembali terpecah dan melahirkan Madrid Football
Club. Tanggal ini tercatat sebagai tanggal berdirinya Real Madrid.
Tiga tahun setelah berdiri, tepatnya pada 1905, Madrid sukses merebut
gelar perdananya yakni Copa Del Rey. Saat itu Madrid mengalahkan
Athletic Bilbao di partai final. Gelar ini berhasil dipertahankan Madrid
empat tahun berturut-turut sampaui tahun 1908.
Tahun 1920, Madrid berhak menggunakan gelar Real setelah Raja Alfonso
XIII memberikan gelar tersebut. Sejak saat itu klub ini menggunakan nama
Real Madrid dan juga memiliki simbol kerajaan pada logonya. Kompetisi
La Liga pertama kali bergulir pada 1929. Namun, Madrid baru berhasil
merebut gelar perdana pada 1931-32. Mereka berhasil mempertahankan gelar
tersebut setahun selanjutnya.
Santiago Bernabeu Yeste terpilih sebagai Presiden Madrid pada 1945. Di
bawah kepemimpinannya, Madrid membangun Stadion Nuevo Estadio Chamartín
dan tempat latihan tim di Ciudad Deprtiva yang sebelumnya telah hancur
karena terjadinya Perang Saudara di Spanyol. Stadion Estadion Chamartin
lalu berganti nama menjadi Santiago Bernabeu pada 1955 untuk menghormati
jasa Bernabeu. Salah satu jasa Bernabeu adalah mendatangkan
pemain-pemain asing, termasuk Alfredo di Stefano yang menjadi kunci
Madrid dalam meraih gelar demi gelar.
Pada tahun 1955, Bernabeu bersama Gabriel Hanot (jurnalis olahraga
L?Equipe) memunculkan ide untuk menggelar kompetisi antarklub Eropa.
Kompetisi ini merupakan cikal bakal dari Liga Champions yang kita kenal
sekarang. Madrid menunjukkan dominasinya di kancah Eropa. Mereka 5 kali
berturut menjuarai Liga Champions sejak 1956 sampai 1960. Prestasi yang
tak bisa disamai klub mana pun sampai saat ini. Setelah lima kali
berturut-turut menjadi juara, Madrid secara permanen diberikan piala
asli turnamen dan mendapatkan hak untuk memakai lencana kehormatan UEFA.
Prestasi Madrid di Eropa berlanjut pada musim 1959-60. Saat itu Madrid
sukses menjadi juara Liga Champions untuk keenam kalinya dengan
mengalahkan Partizan Belgrade di partai puncak. Di partai final, Madrid
menurunkan seluruh pemain berkebangsaan Spanyol, itu kali pertama
terjadi dalam sejarah pertandingan antarklub Eropa. Kejayaan Madrid pada
tahun 1960 berlanjut dengan gelar Piala Intercontinental. Madrid
mengalahkan klub Uruguay, Penarol dengan agregat 5-1.
Tak hanya di kancah domestik, Los Blancos ? julukan Madrid ? juga
berjaya di kancah domestik. Di liga domestik dari musim 1953-54 sampai
musim 1977-78 Madrid telah meraih 16 gelar La Liga. Di Copa del Rey dari
tahun 1946 sampai tahun 1975 Madrid meraih enam gelar.
Presiden Santiago Bernabeu meninggal dunia pada 2 Juli 1978. Tercatat,
dia menjabat sebagai Presiden Madrid kurang lebih 33 tahun lamanya.Dia
juga menorehkan sejarah sebagai Presiden terlama yang pernah menjabat di
Madrid.
Madrid sempat mengalami pasang surut prestasi. Pada tahun 1980-an
Madrid dengan pemain-pemain seperti Rafael Martín Vázquez, Emilio
Butragueno, dan Míchel sempat menuai kesuksesan. mereka berhasil
memenangkan dua Piala UEFA, lima gelar Liga Spanyol berturut-turut, satu
Piala Spanyol, dan tiga Piala Super Spanyol.
Pada musim 1997-98, Madrid sukses mengobati dahaga mereka di ajang Liga
Champions. Di bawah pelatih Jupp Heynckes, Madrid berhasil keluar
sebagai juara untuk pertama kalinya sejak 32 tahun dengan mengalahkan
Juventus 1-0 di partai puncak. Akhir tahun 1998, Madrid semakin berjaya
dengan merebut Piala Intercontinental.
Pada 16 Juli 2000, Florentino Perez terpilih sebagai Presiden Madrid.
Dia tak ragu mengeluarkan banyak uang untuk pemain-pemain bintang yakni
Zinedine Zidane, Ronaldo, Luís Figo, Roberto Carlos, Raul dan David
Beckham. Di masa kepemimpinannya, Perez berhasil membawa Madrid meraih
banyak piala sejak tahun 2001 sampai tahun 2003 yakni dua gelar La Liga
(2001 dan 2003), dua Piala Super Spanyol (2001 dan 2003), satu Liga
Champions (2002), satu Piala Super Eropa (2002), dan satu Piala
Intercontinental (akhir tahun 2002).
Ramón Calderón kemudian terpilih sebagai presiden klub pada 2 Juli 2006
dan kemudian ia mengangkat Fabio Capello sebagai pelatih baru dan
Predrag Mijatovi? sebagai direktur sepak bola yang baru. Real Madrid
memenangkan gelar La Liga pada tahun 2007 untuk pertama kalinya dalam
empat tahun. Namun Capello tetap dipecat karena gagal mempersembahkan
gelar Liga Champions. Musim selanjutnya, Madrid di bawah kepelatihan
Bernd Schuster berhasil mempertahankan gelar La Liga.
Florentino Perez kembali terpilih sebagai Presiden Madrid pada 1 Juni
2009. Dia kembali mendatangkan pemain-pemain bintang ke Santiago
Bernabeu termasuk Cristiano Ronaldo yang menjadi pemain termahal dunia.
Namun, apa daya tiga musim berturut-turut sejak musim 2009 Madrid harus
berada di bawah bayang-bayang Barcelona. Mereka tiga kali finish sebagai
runner-up dan gagal menjadi juara Liga Champions.
Awal musim 2010/2011 Perez membawa Jose Mourinho yang baru saja
mempersembahkan gelar treble winners untuk Inter Milan. Namun nama besar
Mourinho saat itu hanya bisa memberikan Madrid gelar Piala Copa del Rey
setelah berhasil mengalahkan Barcelona di babak final.
Sejak kompetisi La Liga bergulir pada 1929 hingga sekarang, Madrid
bersama Athletic Bilbao dan Barcelona tercatat sebagai tim yang tak
pernah terdegradasi.
Prestasi Real Madrid:
Domestik:
31 kali Juara La Liga: Tahun 1932 ; 1933 ; 1954 ; 1955 ; 1957 ; 1958 ;
1961 ; 1962 ; 1963 ; 1964 ; 1965 ; 1967 ; 1968 ; 1969 ; 1972 ; 1975 ;
1976 ; 1978 ; 1979 ; 1980 ; 1986 ; 1987 ; 1988 ; 1989 ; 1990 ; 1995 ;
1997 ; 2001 ; 2003 ; 2007 ; 2008
18 kali Juara Piala Spanyol: Tahun 1905 ; 1906 ; 1907 ; 1908 ; 1917 ;
1934 ; 1936 ; 1946 ; 1947 ; 1962 ; 1970 ; 1974 ; 1975 ; 1980 ; 1982 ;
1989 ; 1993 ; 2011
8 kali Juara Piala Super Spanyol: Tahun 1988 ; 1989 ; 1990 ; 1993 ; 1997 ; 2001 ; 2003 ; 2008
Eropa:
9 kali Juara European Cup/UEFA Champions League: Tahun 1956 ; 1957 ;
1958 ; 1959 ; 1960 ; 1966 ; 1998 ; 2000 ; 2002
2 kali Juara Piala UEFA/UEFA Europa League: Tahun 1985 dan 1986
2 kali Runner up Piala Winner: Tahun 1971 dan 1983
1 kali Juara Piala Super UEFA: Tahun 2002
Dunia:
3 kali Juara Piala Intercontinental (berubah nama menjadi FIFA Club
World Cup): Tahun 1960 ; 1998 ; 2002
Inilah Sejarah Awal Permusuhan Barcelona dan Real Madrid
PERMUSUHAN antara Barcelona dan Real Madrid bermula pada masa Franco. Siapa Franco? Dia adalah seorang Jenderal yang menjadi penguasa diktator di Spanyol pada tahun 1930-an. Barcelona, sampai sekarang, adalah ibukota dari Provinsi Catalonia (Catalunya), yang sebagian besar penduduknya adalah dari suku bangsa Catalan dan Basque.
Bagi rakyat Catalan, ada istilah semacam ‘El Barca Es Mas Que Un Club’ (Barca bukan hanya sekedar klub), namun lebih dari itu. Barcelona merupakan cerminan dari dendam ‘pemberontakan’ dan perjuangan social-politik kaum tertindas, terpinggirkan, terjajah di sebuah wilayah kekuasaan yang bernama kerajaan Spanyol.
Gambaran perlawanan yang paling jelas adalah kalimat ‘Catalonia is Not Spain’ yang selalu menghiasi spanduk fans Barcelona ketika kesebelasan kesayangan mereka bertanding-hadapan melawan Real Madrid, yang sudah sejak tahun 1930-an, pada zaman Jenderal Franco yang kejam, merupakan klub favorit pemerintah Spanyol.
Jenderal Franco melarang penggunaan bendera dan bahasa daerah Catalan. FC Barcelona kemudian menjadi satu-satunya tempat dimana sekumpulan besar orang dapat berkumpul dan berbicara dalam bahasa daerah mereka. Oleh sebabnya, setiap laga El-Clasico pendukung Barca terlihat kerap membawa bendera Catalonia (biru, kuning dan merah-marun) sebagai bendera mereka, bukan bendera nasional Spanyol pada umumnya.
Pada tahun 1936, Jenderal Franco kemudian bertindak lebih jauh. Josep Suol, Presiden Barcelona waktu itu, dibunuh oleh pihak militer dan sebuah bom dijatuhkan di FC Barcelona Social Club pada tahun 1938.
Di lapangan sepakbola, titik nadir permusuhan ini terjadi pada tahun
1941 ketika para pemain Barcelona diinstruksikan (dibawah ancaman
militer) untuk kalah dari Real Madrid.
Barcelona kalah dan gawang mereka kemasukan 11 gol dari Real Madrid. Sebagai bentuk protes, Barcelona bermain serius dalam 1 serangan dan mencetak 1 gol. Skor akhir 11-1, dan 1 gol itu membuat Franco kesal. Kiper Barcelona kemudian dijatuhi tuduhan apengaturan pertandingan dan dilarang untuk bermain sepakbola lagi seumur hidupnya.
Sejak saat itu FC Barcelona menjadi semacam klub Anti-Franco dan menjadi simbol perlawanan Catalonia terhadap Franco, dan secara umum, terhadap Spanyol. Ada juga klub-klub lain di Catalonia seperti Athletic Bilbao dan Espanyol. Athletic Bilbao sampai saat ini tetap pada idealismenya untuk hanya merekrut pemain-pemain asli Basque, tetapi dari segi prestasi tidak sementereng Barcelona.
Demikian juga dengan Espanyol. Sementara yang dijadikan simbol musuh,
tentu saja, adalah klub kesayangan Franco yang bermarkas di ibukota
Spanyol, FC Real Madrid. Sebagai
sebuah simbol perlawanan, kultur dan karakter Barcelona kemudian
terbentuk dengan sendirinya. Siapapun pelatihnya, dan gaya apapun yang
dipakai, karakternya hanya satu: Menyerang!.
Sebagai penyerang, Barcelona bermaksud untuk mendobrak dominasi Real
Madrid (dan bagi orang Catalonia, mendobrak dominasi Spanyol). Untuk
itulah Barcelona pantang bermain bertahan, karena itu adalah simbol
ketakutan. Kalah atau menang adalah hal biasa. Tapi keberanian memegang
karakter, itulah yang menjadi simbol perlawanan.
Pada tahun 50-an dan 60-an, Barca memang tertutup oleh kejayaan Real Madrid yang waktu itu diperkuat Ferenc Puskas, Di Stefano, dsb. Sebagai anak emas Franco sejak tahun 1930-an, Real Madrid memang selalu memiliki sumber dana besar untuk belanja pemain. Barcelona sendiri, pada 2 dasawarsa tersebut hanya bisa memenangi 4 kali liga spanyol, 2 kali piala raja, dan satu kali piala Inter City Honest (yang kemudian menjadi UEFA Cup).
Pada tahun 1973, seorang pemain Belanda yang kelak menjadi salah satu legenda Barcelona, Johan Cruyff, bergabung dari Ajax. Dalam pernyataan persnya ketika diperkenalkan, Cruyff menyatakan bahwa ia lebih memilih Barcelona dibanding Real Madrid karena ia tidak akan mau bermain di sebuah klub yang diasosiasikan dengan Franco.
Bersama kompatriotnya, Johan Neeskens, mereka langsung membawa Barcelona memenangi gelar liga spanyol (setelah sebelumnya 14 tahun puasa gelar), dan dalam prosesnya tahun itu sempat mengalahkan Real Madrid di kandang Madrid sendiri dengan skor 5-0 (!).
Pada tahun itu Johan Cruyff dinobatkan sebagai pesepakbola terbaik Eropa, dan memberi nama anaknya dengan nama khas Catalan, yaitu Jordi. Statusnya sebagai legenda menjadi abadi. Jordi Cruyff sendiri pada akhirnya tidak pernah bisa sebesar ayahnya. Karir sepakbolanya lebih banyak dihabiskan di klub-klub medioker, meski sempat beberapa tahun memperkuat Manchester United.
Selanjutnya, permusuhan itu terus ada, meskipun tidak sesengit pada tahun-tahun awalnya, sampai sekarang. Bisa dibilang, rivalitas saat ini sudah lebih sportif dan berjalan dengan lebih sehat. Tapi permusuhan yang sejak dulu telah begitu mengakar menjadikan duel diantara keduanya selalu menjanjikan sesuatu yang spesial.
Inilah mengapa duel antara Barcelona dengan Real Madrid yang terjadi
setidaknya 2 kali setiap tahunnya (di liga Spanyol) disebut dengan el
classico, karena memang menyajikan satu duel klasik dengan sejarah
panjang terbentang dibelakangnya.
Meski berulang setiap tahun, akan tetapi saking monumentalnya duel ini membuat Johan Cruyff dan Bobby Robson ketika menjadi pelatih Barcelona pada era akhir 1980-an sampai akhir 1990-an sampai mengibaratkan el classico sebagai sebuah perang, bukan sekedar pertandingan sepak bola.
Baik pelatih Real Madrid maupun pelatih Barcelona ketika menghadapi el
classico akan merasa seperti membawa sepasukan 'serdadu' perang, bukan
sebuah 'kesebelasan' sepak bola, karena begitu besarnya kehormatan yang
dipertaruhkan.
Demikian juga pertaruhan bagi pelatih, karena ketika dia diangkat sebagai pelatih seolah sudah ada beban yang diberikan oleh klub: "Anda boleh kalah dari siapa saja di liga ini, tapi jangan sampai kalah dari Real Madrid...,"
Meski begitu di dalam lapangan, peperangan ini sepanjang sejarahnya selalu berlangsung dalam sportifitas yang tinggi, karena sportifitas pun merupakan satu bentuk kehormatan yang harus dijaga. Ini soal nama baik.
Transfer pemain adalah salah satu bentuk perang di luar lapangan. Dalam hal ini, perpindahan pemain dari Barcelona ke Real Madrid (maupun sebaliknya) akan dianggap sebagai sebuah bentuk pengkhianatans Figo mungkin adalah salah seorang yang paling mengerti mengenai hal ini.
Direkrut oleh Barcelona pada tahun 1996, pemain Portugal yang kala itu
bukan siapa-siapaa tersebut kemudian menemui masa-masa jayanya.
Barcelona memberinya peranan signifikan sebagai sayap kanan tim, dan
bersama Rivaldo membawa Barcelona berjaya pada akhir tahun 1990an.
Akan tetapi, pada tahun 2001, dunia tersentak ketika Figo menerima tawaran Real Madrid dengan iming-iming gaji dua kali lipat dan nilai transfer yang ketika itu menjadi rekor pembelian termahal seorang pemain sepak bola.
Nilai itu melebihi batas klausul transfer Figo, sehingga Barcelona harus menerima tawaran tersebut berdasarkan aturan Bosman. Meski begitu, transfer itu tetap tidak akan terjadi seandainya Figo secara pribadi tidak menerima tawaran Real Madrid. Toh akhirnya Figo berkhianat.
Dalam duel el classico tahun berikutnya, ketika pertandingan dilangsungkan di Nou Camp (kandang Barcelona), Figo menerima sambutan monumental yang mungkin tidak akan dilupakannya seumur hidup.
Seorang pendukung Barcelona di tengah-tengah pertandingan berhasil menerobos pagar petugas keamanan, sambil memakai bendera Barcelona sebagai jubah, kemudian berlari ke arah Figo membawa sebuah hadiah istimewa, yakni: Sebuah kepala babi, lengkap dengan darah masih menetes dari lehernya. Ia kemudian melemparkan bendera Barcelona dan kepala babi itu ke arah Figo.
Figo sendiri hanya terdiam menunduk beberapa saat, lalu berjalan menjauh. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu, karena ia tahu kepala babi itu adalah simbol keserakahan dan pengkhianatan.
Dalam hal prestasi, Real Madrid memang masih di atas Barcelona. Jarak
prestasi itu terjadi terutama pada tahun 1950-1970an, ketika Real Madrid
menjadi anak emas Franco dan memiliki kekuatan finansial jauh diatas
Barcelona untuk membeli bintang-bintang sepakbola nan bersinar dari
seluruh dunia dan tradisi itu masih berlanjut hingga sekarang.
Langganan:
Postingan (Atom)





